Al-Quran yang Ternoda

Menghidupkan pemahaman dan bacaan Alquran adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatan kesejukan itu. Kesejukan disini bukan hanya yang ada di dunia saja, akan tetapi kesejukan tersebut akan terus mengalir meskipun kita sudah tidak hadir lagi di dunia ini. Dan tentu tidak akan kita biarkan pedoman kita itu menjadi objek penodaan dari kaum-kaum yang bermaksud menghancurkan Islam. Sekalipun ia “mengakui” dirinya adalah bagian dari umat Islam.
Akankah kita diam saja? Ataukah kita sama dengan mereka? Sungguh sangat jelas sekali, ia berada pada jajaran golongan orang-orang fasik (Orientalis, Misionaris, dan Liberalis) yang akan terus menerus menyerang kita dengan meruntuhkan Alquran dalam jiwa kita. Maka apakah sebenarnya yang paling urgen dan efektif yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri dan melawan mereka? Tentu yang paling mendasar adalah menguatkan keimanan kita kepada Alquran itu sendiri kemudian menyiarkan kebenaran-kebenaran Alquran. Kita pun harus menanamkan pada diri kita bahwa Alquran tak memiliki keraguan di dalamnya (la rayba fihi) dan benar-benar telah dijaga oleh Allah hingga akhir zaman (wa inna lahu lahaafizhun).

Penulis : Andi Ahmad F.
Ukuran : 13.5 x 20.5
Harga : Rp.24.000,00
Tebal : viii + 102 halaman

Fiqih Shalat

Kebanyakan kaum muslimin memandang remeh akan urusan shalat, dan tidak menegakkan menurut cara yang paling baik seperti yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala atas kaum mukminin. Allah Ta’ala berfirman: “Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat”. (QS: al-Baqarah: 3). Allah tidak mengatakan: “Yang mengerjakan shalat, atau melakukan shalat”. Mengapa? Sebab, tidak cukup hanya sekedar mengerjakan dengan tata cara yang zahir saja. Iqamah (mendirikan shalat), artinya, mendirikan secara zahir dengan menyempurnakan segala
rukun, wajib serta syarat-syaratnya. Demikian pula menegakkan yang sifatnya bathin, yakni mendirikan ruh-nya, berupa hadirnya hati, serta tadabbur segala apa yang diucapkan dan dikerjakan. Inilah hakekat shalat yang dikabarkan Allah ta’ala dalam firman-Nya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” Shalat semacam inilah yang bakal membuahkan pahala. Dan tidak ada balasan bagi seorang hamba dari ibadah shalatnya, kecuali apa yang dipahami darinya. Dari sini, maka sudah selayaknya untuk memaparkan pembahasan seputar dalildalil dan tata cara yang benar. Dalam buku
ini, penulis akan memaparkan fiqih shalat yang harus diketahui oleh masyarakat agar tidak jatuh pada kesalahan-kesalahan yg menyebabkan tidak diterimanya shalat kita, seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi taufiq kepadaku berupa kebenaran, sesungguhnya Ia Maha Kuasa atas yang demikian.

Penulis : Syaikh DR. Shalih Bin Fauzan
Ukuran : 13.5 x 20.5
Harga : Rp35.000
Tebal : viii + 175 halaman

Variasi Bacaan Shalat

Sahl mengatakan: “Barang siapa yang hatinya khusyuk, maka setan tidak akan mendekatinya.” (Lih. Madarij al-Salikin, 1/521)
Mengingat apa biasa dirasakan oleh seseorang dari dirinya–ketika ia mendengarkan begitu banyak orang yang mengeluh di sekitarnya tentang keragu-raguan dan hilangnya kekhusyuan dalam shalat–, maka menjadi jelaslah betapa perlunya membicarakan tentang variasi bacaan dalam shalat, sebagaimana yang ada dari Rasulullah
Shallallahu alaihi wa Sallam. Memvariasikan dzikir akan membuat kita menghadirkan rasa dalam shalat dan mentadabburi segala apa yang ada di dalamnya. Maka sesekali kita membaca dzikir ini, dan di kali lain kita
membaca dzikir yang ini. Hingga dengan demikian, kita akan beruntung meraih dua keutamaan: khusyuk
dalam shalat dan mengamalkan sunnahsunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Penulis : Thariq Al Qaththan
Ukuran : 13.5 x 20.5
Harga : Rp.23.000
Tebal : x + 122 halaman